Angin sore yang dingin, masuk melalui sela-sela rumah, di salah satu kompleks kota Jakarta. Andini salah satu gadis kecil yang sudah terbiasa hidup di manjakan oleh kedua orang tuanya. Walaupun dia anak orang kaya yang sudah terbiasa di manjakan, tetapi dia selalu mengaji, rendah hati, dan birrul walidain. Sehingga Andini mempunyai banyak teman, baik di sekolah maupun di rumah.
Waktu yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, Andini dan teman sebayanya telah lulus SD, Andini mendapatkan danem yang sangat baik. Sesampainya di rumah, dia memikirkan perbincangan kedua temannya yang di sekolahan tadi. Mereka ingin mondok dan sekolah di Jombang. Keinginan Andini untuk ikut mereka pun datang dengan tiba-tiba. Tanpa berfikir panjang Andini langsung berbicara kepada ayahnya, yang sedang duduk santai di teras rumah.
“Yah, seumpama Andini ikut mondok Ana dan Afi ke Jombang boleh gak?”
“Ya, boleh nak. Ayah ingin jika kamu lulus SMA melanjutkan kuliah ke Arab Saudi seperti anak-anaknya teman Ayah. Jadi memang jalan terbaik untukmu saat ini adalah mondok (menghafal Al-qur’an) dan sekolah di Jombang agar kamu lebih mendalami lagi ilmu agama.”
“Tapi yah. Apa Ibu mengizinkan? Ibu dan kakak kan sudah mencarikan Andini pondok di Jakarta aja?”
“Dini harus mencoba ngomong baik-baik dengan Ibu. Insyallah Ibu mengizinkan.”
“Ya yah, ya sudah Dini mandi dulu, sebentar lagikan Dini mengaji dengan teman-teman.”
Senja di sore itu begitu indah. Andini dan teman-temannya mengayun sepeda dengan penuh canda dan tawa. Mereka menuju masjid untuk mengaji kitab dan Al-qur’an. Andini sangat fashih membaca Al-qur’an dan kitab-kitab yang lain. Mereka mengaji sampai ba’da isya’. Biasanya Andini di jemput oleh mang Ujang, dia pembantu dan sopir di rumah Andini. Mang Ujang menjemput dengan sepeda dan Andini juga naik sepeda di depannya. Sesampainya di rumah, Andini bersalaman dan mencium tangan kedua orang tuanya, seperti yang biasa ia lakukan.
Dengan perasaan takut, Andini pun memberanikan diri untuk meminta izin kepada Ibunya. Andini sangat canggung, tetapi akhirnya mulut Andini pun terbuka.
“Bu, Andini sekolah dan mondok di Jombang, boleh nggak? Andini ingin menghafalkan Al-qur’an agar setelah lulus SMA, Andini dapat melanjutkan kuliah ke Arab Saudi. Ayah kan menginginkan Andini kuliah disana.”
“Bukannya tidak boleh Din, tapi kamu masih kecil. Dini belum bisa apa-apa, sedangkan di pondok Dini harus mencuci baju sendiri. Emang Dini bisa mencuci baju? Lagian Ibu dan Kakak sudah mencarikan Dini pondok disini aja. Agar kami semua dapat menjenguk Dini setiap bulan.”
“Tapi Bu, Dini gak sendiri kok! Disana Dini kan dengan Ana dan Afi. Walaupun mereka tidak menghafalkan Al-qur’an. Ayolah Bu, boleh ya?”
“Din, kamu itu masih sangat manja. Ibu gak tega kamu mondok jauh dari kami. Dini di rumah kan juga belum tidur di kamar sendiri, walaupun sudah pisah ranjang dengan Ibu dan Ayah.”
“Ya Bu, tapi Dini ingi sekali mondok (menghafal Al-qur’an) dan sekolah disana. Dini ingin mandiri Bu!”
“Ya sudah, ini sudah malam. Dini cepetan tidur, besok di lanjutin lagi. Tapi Ibu belum meridhoi Dini mondok dan sekolah di Jombang.” Andini pun ke kamar mandi untuk sikat gigi dan wudlu, seperti yang biasa ia lakukan sebelum tidur. Sesampainya di kamar, diatas ranjang ia hanya mengkedip-kedipkan matanya karena tidak bisa tidur.
Keesokan harinya, Ayah diam-diam mengurus surat ligaliser di sekolah Andini. Lalu menuju rumah ayah Afi untuk membicarakan tentang pondok Andini dan Afi. Ayah Andini dan Afi setuju untuk memondokkan kedua putri mereka ke Jombang.
Tiba saatnya, Andini, Afi, dan Ana untuk berangkat ke Jombang. Kedua orang tua Ana dan Afi meridhoi mereka untuk mondok di Jombang. Sedangkan Andini hanya Ayah dan kakaknya lah yang meridhoi Andini mondok.
Pagi telah datang, mang Ujang sudah membersihkan mobil dan memasukkan koper Andini ke bagasi mobil. Ayah, Ibu, Kakak, dan Andini di ruang tengah. Ayah masih berusaha meminta ridho Ibu atas kepergian Andini.
“Bu, ridhoilah anak kita pergi untuk mencari ilmu. Memang Dini masih manja, tapi ia mempunyai niat yang kuat untuk mondok jauh dari kita, Bu.”
“Maaf Yah, saat ini Ibu belum bisa meridhoi kepergian Dini. Tetapi entahlah jika lambat laun Ibu bisa meridhoi.”
“Bu Dini tau perasaan Ibu. Tapi Dini mohon, ridhoilah Dini Bu.”
Andini menangis dan bersimpu di kaki Ibunya. Dengan wajah manjanya.
Melihat kejadian tersebut, kakak Andini pun mengangkatnya, dan mengajak Andini untuk duduk di sofa bersama Ayah, Ibu, dan Kakaknya. “Dini, maaf. Ibu belum bisa merodhoi. Tapi Ibu mengizinkan Dini pergi untuk mencari ilmu. Dini ke bandara di antar Ayah dan Kakak ya?”
Ibu berbicara dengan mengeluarkan air mata, bibirnya pun bergetar, dan merasa sakit hati karena di tinggal oleh putri bungsunya yang sangat manja.
Ayah, Ibu, Kakak, dan Andini berjalan menuju halaman rumah. Andini bersalaman dengan Ibu, lalu Ibu memeluk Andini dengan erat dengan penuh kasih sayang. Ibu dan Andini pun menangis.
“Dini, ayo masuk mobil. Dini di depan dengan Ayah saja ya?”
“Gak mau, Dini duduk dengan kakak saja di belakang. Dini ingi memuaskan hari terakhir bersama kakak.”
“Ya sudahlah yah, lagian nanti Ayah kan juga mengantarkan Dini sampai ke Jombang. Jadi biarkan Dini duduk di belakang bersama saya, Yah!”
Mang Ujang sudah siap untuk mengantarkan Ayah, Kakak, dan Andini ke bandara. Mereka semua melambaikan tangan dan Ibu pun membalas lambaian tangan mereka.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Andini menangis terus menerus. Kakak pun tidak tega melihat Adeknya yang menangis terus. Lalu kakak menarik kepala Andini dengan lembut ke pangkuannya, dan membelai-belai kepala Andini.
“Dini, jika kamu sudah berniat sepenuh hati untuk mondok dan sekolah di Jombang, jangan menangis terus donk sayang! Kakak gak tega melihat Dini seperti ini terus.”
“Ya Kak, Dini gak nangis terus.”
Ayah di depan hanya memandangi kedua anaknya yang sangat Ia sayanginya. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di bandara Soekarno Hatta.
Mang Ujang mengeluarkan koper Andini dari bagasi mobil. Lalu Andini memeluk kakak dengan erat dan menangis.
“Kak, Kakak meridhoi kepergian Dini, kan?”
“Ya Din, kakak meridhoi, tapi Dini jangan nangis terus ya?”
“Ya kak, ya sudah ya kak. Pasti Afi, Ana dan orang tua mereka sudah menunggu Ayah dan Andini.”
“Ya Din, hati-hati ya sayang. Kakak sayang banget ma Dini, selamat berjuang untuk menuntut ilmu ya Adekku!, Kakak dan Mang Ujang pulang dulu.”
Mobil pun melaju untuk meninggalkan bandara. Dari jauh Kakak melambaikan tangan, Andini dan Ayah pun membalas lambaian tangan kakak.
Ayah dan Andini masuk ke bandara, keduanya telah di tunggu oleh Ana , Afi, dan Ayah keduanya di ruang tunggu penumpang Batavia Air jurusan Jakarta-Surabaya. Setelah turun dari pesawat mereka melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju Jombang.
Akhirnya beberapa menit kemudian pesawat yang mereka tumpangi pun telah mendarat. Andini, Afi, Ana, dan Ayah mereka masuk ke pesawat.



0 komentar:
Posting Komentar