Subscribe:

Labels

Flags Visitor

free counters

Kamis, 13 Oktober 2011

GLOBAL WARMING

GLOBAL WARMING
”BOM WAKTU KEHIDUPAN”

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar, topan dan badai menyapu bersih, ini bukan hukuman hanya satu isyarat bahwa kita mesti cepat berbenah, namun bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista...........

Penggalan syair Ebiet G. Ade ini seolah menyadarkan kita dari keterlenaan, bahwa ternyata alam tidak selamanya manut dengan kita, tidak selamanya, dia menjadi bawahan kita yang senantiasa menurut dengan patuhnya dengan mau kita, Tapi…………ternyata alam juga bisa berontak, bisa mengamuk, dan bisa menyiksa kita dengan perlahan-lahan dengan kekuatannya. Entah, mungkin seandainya alam bisa bicara mungkin mereka tidak ingin membalas kejahatan kaum manusia, mungkin mereka tidak tega menjungkirbalikkan pohon-pohon, memuntahkan air dengan merajalela terhadap orang-orang yang tak berdosa dan para generasi kita. 



 Ya………alam tidak punya pilihan lain, mereka harus memberi peringatan dengan kita, mereka harus membangunkan kita dari keterlenaan eksploitasi sumber daya alam, pemakaian bahan bakar yang tidak ramah lingkungan, dan illegal logging. Memang kita semua sadar  akibat itu tidak mungkin datang didepan tapi selalu datang belakangan, dan kita baru  akan sadar setelah kita merasakan, itulah kodrati kehidupan. Mungkin kita memang sudah merasakan akibat dari tangan-tangan kita, mengapa banjir dimana-mana, mengapa bumi semakin panas dan menyerap energi tubuh kita, ,mengapa musim sekarang kacau balau, kadang panas kadang hujan, tapi kita tetap cuek, tak perduli demi memperkaya diri sendiri. Dan salah satu akibat yang di timbulkan dari semua tindakan itu adalah peningkatan suhu bumi atau pemanasan global, yang konon katanya pada tahun 2050 Indonesia bakal kehilangan sepertiga dari pulaunya akibat pemanasan global. Di Bali dari tanggal 3 sampai dengan 14 Desember 2007 semua orang dari 169 negara di seluruh dunia sibuk berkumpul untuk mencari solusi dari pemanasan global yang hari demi hari semakin meningkat.Mungkin kita semua masih bertanya-tanya apakah pemanasan global/global warming itu?
EFEK RUMAH KACA
            Istilah efek rumah kaca berasal dari pengalaman para petani didaerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan didalam rumah kaca. Dalam rumah kaca dipasang alat pemanas sehingga ruangan didalam rumah kaca dapat dipanaskan sesuai dengan waktu yang diperlukan, misalnya pada malam hari atau musim gugur,musim dingin, dan musim semi. Dengan demikian para petani dapat menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan sepanjang tahun, meskipun suhu diluar sangat dingin. Menurut pengalaman para petani pada siang hari pada waktu  cuaca cerah tanpa alat pemanas pun suhu didalam ruangan rumah kaca lebih tinggi daripada diluarnya. Apa yang terjadi disini ialah cahaya matahari dapat menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda didalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar inframerah. Dengan ini udara didalam ruangan rumah kaca suhunya naik dan panas itu terperangkap didalam ruangan rumah kaca serta tak bercampur dengan udara dingin yang berada diluar rumah kaca. Suhu didalam rumah kaca pun lebih tinggi daripada diluarnya. Dengan demikian terciptalah istilah efek rumah kaca.
            Efek rumah kaca dapat kita alami didalam ruangan rumah yang berjendela kaca yang lebar dan terkena sinar matahari. Demikian pula dalam mobil yang di parkir ditempat yang panas dengan jendela yang tertutup.
            Atmosfer bumi terdiri    atas beberapa lapisan. Lapisan terendah disebut troposfer. Troposfer inilah yang penting dalam kejadian efek rumah kaca.
            Menurut hukum fisika, panjang gelombang sinar yang dipancatrkan oleh sebuah benda bergantung pada suhu benda tersebut. Makin tinggi suhunya, makin pendek gelombangnya. Matahari dengan suhunya yang tinggi memncarkan sinar dengan gelombang yang pendek.
            Radiasi matahari yang berwarna putih sebenarnya terdiri atas berbagai macam jenis warna, yaitu ; ungu, indigo, biru, hijau, kuning,orange, dan merah. Masing-masing jenis mempunyai panjang gelombang tertentu. Sinar ungu mempunyai panjang gelombang terpendek dan merah terpanjang. Disamping itu, matahari juga memancarkan sinar yang tak kasat mata, yaitu sinar alpha, sinar x dan UV yang panjang gelombangnya lebih pendek daripada ungu dan inframerah dengan panjang gelombang yang lebih panjang dari inframerah. Sinar imframerah adalah sinar panas.
Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek, sinar alpha, sinar x, UV ekstrem, UV-C, dan sebagian besar UV-B diserap oleh lapisan atmosfer atas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa pada batas atmosfer, awan dan partikel yang ada dalam udara. Bagian radiasi yang dikembalikan ke ruang angkasa disebut albedo bumi.
Sisanya yang 65% masuk kedalam troposfer. Didalam troposfer ini, 14% diserap oleh uap air, debu, dan gas tertentu sehingga hanya 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari yang 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan didalam troposfer oleh molekul gas dalam atmosfer dan partikel debu. Radiasi yang diterima oleh bumi sebagian memantul dan sebagian lagi diserap. Radiasi yang diserap itu dipancarkan kembali oleh permukaan bumi. Karena suhu bumi rendah, bumi memancarkan sinar yang bergelombang panjang, yaitu sinar inframerah.
Semua molekul gas yang terdiri atas lebih dari satu atom antara lain, uap air (H2O) dan CO2 . Dengan adanya berbagai jenis gas itu sinar inframerah sebagian terserap oleh atmosfer sehingga sinar infra merah itu tidak terlepas ke angkasa luar. Panas itu terperangkap dalam lapisan troposfer. Karena itu suhu troposfer dan permukaan bumi naik. Terjadilah efek rumah kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah disebut gas rumah kaca.
Dengan efek rumah kaca suhu dipermukaan bumi akan naik. Seandainya tidak ada efek rumah kaca suhu rata-rata bumi akan sekitar -18oC, terlalu dingin untuk kehidupan manusia. Dengan adanya efek ruma kaca suhu rata-rata bumi 33% lebih tinggi, yaitu sekitar 15oC. Jadi efek rumah kaca membuat suhu bumi sesuai untuk kehidupan manusia.

Pemanasan Global
            Sampai pada akhir decade 1970-an, pemanasan global hanyalah diperdebatkan dikalangan para ilmuwan. Masyarakat umum belumlah mempunyai perhatian terhadapnya. Akan tetapi dengan makin banyaknya didapatkan petunjuk tentang kemungkinan terjadinya pemanasan global dan dengan makin banyak diketahui dampak yang akan ditimbulkannya. Dengan perkembangan ini  pada tahun 1987, kongres Amerika Serikat telah mengadakan dengar pendapat dengan para ilmuwan. Dari dengar pendapat itu para wakil rakyat mengambil kesimpulan bahwa pemanasan global itu memang perlu di perhatikan. Sejak itu permasalahan pemanasan global menjadi isu yang hangat, tidak saja di AmerikaSerikat, melainkan diseluruh dunia. Pemanasan global adalah gejala naiknya suhu permukaan bumi karena naiknya intensitas efek rumah kaca.
Pemantauan kadar CO2 didalam atmosfer telah dilakukan secara langsung di Gunung Mauna Loa Hawaii sejak tahun 1958. Tempat itu dipilih karena tidak adanya tumbuhan sehingga hasilnya tidak terpengaruh  oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan setempat. Hasil pemantauan itumenunjukkan adanya kenaikan kadar CO2 yang terus-menerus.Dengan kenaikan kadar itu dikhawatirkan makin banyak sinar inframerah yang diserap oleh CO2 sehingga intensitas efek rumah kaca akan naik. Hal ini akan

GAS RUMAH KACA
            Gas rumah kaca selain mengandung uap air dan CO2, GRK juga mengandung metan, ozon, N2O, dan CFC. CFC merupakan sekelompok jenis zat buatan manusia yang banyak digunakan dalam industri dan kehidupan sehari-hari. GRK lainnya terbentuk dalam alam secara langsung ataupun akibat pencemaran. Masing-masing jenis GRK mempunyai sifat penyerapan sinar berbeda-beda, yaitu yang disebut Spektrum absorpsi. Uap air menyerap sinar inframerah yang bergelombang antara 4.000 sampai 7.000 nm dan CO2 yang bergelombang antara 12.500 sampai 17.000nm sehingga antara 7.000 dan 13.000 nm terdapat ’jendela’ yang dapat dilalui oleh sinar inframerah untuk lepas ke ruang angkasa. Melalui jendela inilah, 70-90% dari radiasi bumi lepas ke angkasa luar. Dengan demikian, intensitas ERK di bumi tidak berlebihan. Akan tetapi, dengan adanya pencemaran udara oleh berbagai gas yang mempunyai spektrum absorpsi antara 7.000nm dan 13nm, makin sedikit sinar inframerah yang dapat melalui jendela itu semakin tertutup.
            Intensitas penyerapan sinar inframerah oleh masing-masing GRK juga berbeda-beda. Ada gas yang dapat menyerap sinar merah dengan sangat intensif sehingga dapat dengan sangat efektif menaikkan suhu. Ada pula yang intensitas penyerapannya rendah. Waktu tinggal (residence time) GRK dalam atmosfer juga mempengaruhi efektifitasnya dalam menaikkan suhu. Makin panjang waktu tinggal gas di dalam atmosfer, makin efektif pula pengaruhnya terhadap kenaikan suhu. Gas yang stabil dan tidak mudah bereaksi dengan zat lain di dalam atmosfer dapat bertahan lama di dalam atmosfer dalam kadar yang tidak banyak berubah. Waktu tinggal dalam atmosfer adalah panjang. Waktu terpendek ialah metan dan terpanjang CO2 yaitu berturut-turut 10 dan 50-200 tahun. N2O dan CFC-12 mempunyai waktu tinggal yang lama juga, yaitu berturut-turut 150 dan 130 tahun. Lihat tabel dibawah ini



GAS
BERAT MOLEKUL
WAKTU
TINGGAL
THN
POTENSI PEMANASAN GLOBAL
CO2
44
50-20
1
Metan
16
10
21
N2O
44
150
290
CFC-11
137
65
3.500
CFC-12
121
130
7.300
  Catatan: Potensi pemanasan global dihitung pada skala waktu 100 tahun.
Tabel diatas menunjukkan CFC mempunyai potensi pemanasan global yang tinggi dibandingkan dengan CO2 sehingga mempunyai bahaya tinggi terhadap pemanasan global dibanding dengan GRK lainnya.
SUMBER GAS RUMAH KACA
Gas rumah kaca berasal dari sumber pemanasan global. Sumbangan terbesar diberikan oleh pembangkitan dan konsumsi energi, yaitu 57%. Kegiatan ini mencakup pembakaran bahan bakar fosil (BBF), yaitu minyak, gas dan batu bara untuk pembangkitan listrik untuk keperluan rumah tangga dan industri serta sebagai sumber energi untuk industri dan transpor. GRK utama yang dihasilkan ialah CO2 selain itu, dihasilkan juga matan dari gas alam dan penambangan batubara serta N2O dan ozon dari pembakaran BBF. PLTA dengan waduknya juga menghasilkan metan, namun belum ada data tentang hal ini.
Tempat kedua diduduki  oleh konsumsi CFC sebesar 17%. Sumbangan yang diberikan oleh industri hanya kecil, yaitu 3%, karena energi yang digunakan oleh energi itu tidak terhitung, melainkan telah dimasukkan ke dalam kelompok kegiatan pertama. Sumbangan ini terutama CO2 dari pabrik semen. Ketiga kelompok ini saja memberikan sumbangan lebih dari 75% pada pemanasan global. Sisanya, yaitu dari pertanian serta penebangan hutan dan perubahan tataguna lahan, berjumlah 23%. Sumbangannya berbentuk CO2 dari pembakaran limbah pertanian, seperti jerami, dan pembakaran hutan pada perladangan berpindah. Pembakaran juga menghasilkan metan dan N2O. Dari peternakan dan sawah dihasilkan metan serta dari pupuk N2O.
Sumber lain yang sumbangannya kecil dibandingkan dengan lima sumber di atas ialah, antara lain, tempat pembuangan sampah. Selain itu, juga terdapat sumber alamiah, yaitu metan dari rawa dan rayap.
Sumber pemanasan global yang lain adalah ozon. Ozon terbentuk secara alamiah di strafosfer. Pembentukan dan perusakan ozon di stratosfer merupakan mekanisme perlindungan bumi dari sinar ultraviolet dari matahari. Di troposfer terbentuk melalui proses fotokimia pada berbagai jenis zat pencemar udara.
Selain sebagai gas rumah kaca, ozon ditroposfer menyebabkan kerusakan pada tumbuhan, cat, plastic dan mengganggu kesehatan manusia.
Ozon dibuat pula dalam pabrik antara lain, untuk menyucihamakan yang dikemas dalam botol plastic.

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL 
            Dampak pemanasan global antara lain;

1. Perubahan iklim
            Pemanasan global akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim sedunia, antara lain pola curah hujan. Curah hujan merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup dibumi, misalnya, pengamatan menunjukkan jika dalam musim kemarau turun hujan di atas normal, jenis tumbuhan tertentu tidak atau sedikit berbunga dan berbuah. Akibatnya hewan yang kehidupannya bergantung pada buah atau tannaman tersebut akan mengalami kelaparan. Jika keadaan ini merupakan perubahan dalam jangka waktu panjang , maka popilasi hewan tersebut lama kelamaan akan menurun dan pada akhirnya akan punah. Pengalaman di Indonesia menunjukkan dengan adanya musim kemarau yang abnormal maka akan banyak menyebabkan kebakaran hutan apalagi ditunjang dengan jenis tanah yang bersifat Gambut sehinga hal ini berdampak terhadap semua kelangsungan hidup flora dan fauna di negara kita tercinta ini. Sebenarnya bumi dengan terus menerus mengalami perubahan iklim, misalnya zaman es berganti dengan zaman antar- es. Namun perubahan itu berlangsung secara pelan-pelan dan terjadi dalam kurun waktu rubuan bahkan jutaan tahun. Karena perubahan yang pelan-pelan itu mahluk hidup dapat menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Akan tetapi perubahan iklim yang akan terjadi sebagai akibat pemanasan global akan berlangsung dalam waktu 50-100 tahun. Dalam ukuran geologi waktu itu sangatlah pendek. Karena itu mahluk hidup akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang amat cepat itu.
            Karena kenaikan suhu permukaan bumi, laju penguapan air akan meningkat. Oleh karena itu lengas tanah akan turun. Kenaikan suhu juga akan menaikkan evapotranspirasi tumbuhan sehingga kebutuhan air akan meningkat. Dengan demikian pengairan harus ditingkatkan. Pada lain pihak kenaikan penguapan juga akan menambah terbentuknya banyak awan sehingga curah hujan akan berubah. 

2. Kenaikan permukaan laut
            Pemanasan global dikhawatirkan   akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang disebabkan oleh beberapa hal. Pertama kenaikan suhu permukaan air laut akan memuai. Pemuaian ini akan menyebabkan bertambahnya volume yang pada gilirannya akan emnyebabkan naiknya permukaan air laut. Kedua, kenaikan suhu akan menyebabkan melelehnya sebagian dari es abadi yang terdapat did daerah Antartika dan Arktika serta di pegunungan tinggi. Melelehnya es ini akan menambah pula volume air laut dan akan menaikkan permukaan laut. Ketiga dapat pula terjadi massa es di Antartika Barat akan lepas dan ambruk ke dalam laut. Karenan massanya yang sangat besar , ambruknya massa es ke dalam laut itu akan menyebabkan pula kenaikan permukaan air laut. Kenaikan itu akan diperkirakan dapat mencapai 7 meter. Keempat yaitu pengaruh dari pemanasan global, menurut skenario  pada tahun 2020, yaitu pada akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang ke-2 dan Pelita X (tepatnya 2019) permukaan laut akan naik 10 meter sampai 50 cm.

3. Keanekaan hayati
            Pemanasan global akan mempunyai dampak terhadap keanekaragaman hayati secara langsung maupun tidak langsung. Penyesuaian diri mahluk hidup terhadap kenaikan suhu dapat secara morfologik dan fisiologik.kemampuan jenis untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan suhu berbeda-beda. Karena itu kenaikan suhu akan mengubah kemampuan relatif jenis-jenis untuk bersaing. Jenis yang kemampuan adaptasinya kecil akan mendapat kerugian relatif, yaitu kemampuan bersaingnya menurun relatif terhadap jenis lain. Sehingga jenis lain akan terdesak dan dapat mengalami kepunahan
                        Cara lain untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan suhu ialah dengan bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi atau mendekati kutub, yaitu di bagian utara khatulistiwa bermigrasi ke arah utara dan di bagian selatan ke arah selatan. Untuk kenaikan suhu 30oC diperlukan migrasi horizontal 250 km ke arah kutub atau 500 m migrasi vertikal ke arah pegunungan yang lebih tinggi untukmendapatkan suhu yang sesuai. Laju migrasi jenis makhluk hidup biasanya berbeda-beda. Pada umumnya hewan mempunyai laju migrasi yang lebih tinggi daripada tumbuhan. Karena perbedaan jenis migrsi ini susunan jenis ditempat yang baru akan berbeda dari tempat aslinya. Hal ini dapat membawa masalah . Misalnya sejenis hewan tidak lagi menemukan jenis tumbuhan pakan atau mangsanya ditempat yang baru. Jika jenis hewan itu bersifat monofag (hanya memakan ejenis pakan saja), maka jenis itu akan mengalami kepunahan, kecuali apabila ia dapat menyesuaikan diri dengan jenis pakan lain.

Ketika halimun pagi membasuh malam
Dalam tafakur makna yang terdalam

Terpatri……..
Terbayang……….
Betapa anggun…………
Hijau………
Sejuk………..
Terhampar permadani hijau
Menyapa embun yang menari-nari direrumputan
Menambah irama keanggunan sabda alam nan syahdu
Indahnya………
Nikmatnya…………..
Semilir angin yang menggeliatkan dedaunan diperaduan
Kuncup mekar yang menarik lincah sang kupu-kupu
Adalah pesona……….pesona………….pesona………..

Oooooh……..Robbi………..
Dalam duli kekuasaan-Mu
Dalam alunan kasih sayang-Mu

Tolong………..
Jangan biarkan durjana-durjana semesta menebar tawa
Memusnahkan sejuknya, menghapus asrinya……..

Robbiku………..
Sekali lagi naluri berujar ke hadirat-Mu
Tetaplah hijauku………
Tetaplah sejukku………
Agar senantiasa bisa memuja, menyapa, mencinta….karunia

Penggalan syair ini sebagai penutup betapa rindunya kita dengan kenyamanan dan kesejukan sebagai makhluk bumi 

Syaipuddin, S.Pd
Staf Pengajar SMA Negeri 1 Pasir Belengkong, Kab. Paser


0 komentar:

Posting Komentar